Sabtu, Agustus 08, 2020

Menyoal Kedaulatan Tambang di Musi Banyuasin

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2677390535809166&id=1545580528990178&sfnsn=wiwspmo&extid=V6crISsU46N29itB

Tragedi Genosida Muslim Srebrenica, Amankah Dunia?

Ada sedikit perbaikan di isi tulisan. Di tengah pandemi Covid-19, Umat Muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7/2020). Sebuah tragedi di mana lebih dari 8.000 pria dewasa dan anak laki-laki Muslim Bosnia dibunuh. Srebrenica adalah sebuah kota pegunungan kecil yang terletak di Bosnia dan Herzegovina timur. Pada Juli 1995 atau 25 tahun silam telah terjadi tragedi yang melingkupi kota di wilayah Eropa itu. Perang etnis (genosida) dilakukan oleh Serbia Ortodoks terhadap muslim Bosnia dan telah menghilangkan ribuan nyawa. Saat peristiwa itu terjadi, Bosnia dan Herzegovina adalah bagian dari Yugoslavia yang dihuni oleh multi-etnis yaitu Bosniak Muslim, Serbia Ortodoks dan Kroasia Katolik. Pembantaian berlangsung usai runtuhnya Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Tentara Serbia dan Tentara Rakyat Yugoslavia (JNA) kemudian berupaya mengamankan teritori mereka yang diikuti dengan upaya pembersihan etnis non- Serbia. Warga Srebrenica pun diketahui telah menjadi target serangan artileri, bom pesawat tempur, dan penembak jitu tentara serbia. Berdasarkan laporan The International Criminal Tribunal forthe former Yugoslavia (ICTY), upaya pembunuhan mulai dilakukan pada 11 Juli 1995 dengan memisahkan laki-laki berumur antara 12 sampai dengan 77 tahun dari perempuan, orang tua dan sanak keluarga lainnya. Perempuan korban selamat dan tewas tak luput dari kasus pemerkosaan pada peristiwa kelam itu (detiknews.com10/07/2020). Pada 1993 Dewan Keamanan PBB telah menyatakan Srebrenica sebagai "daerah aman". Namun, pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic yang sekarang menghadapi tuduhan genosida di Den Haag menyerbu zona PBB meskipun kehadiran sekitar 450 Belanda tentara yang ditugaskan untuk melindungi warga sipil yang tidak bersalah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB. Pasukan Belanda gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu, hingga menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak laki-laki. Sekitar 15 ribu pria Srebrenica melarikan diri ke pegunungan di sekitarnya tetapi pasukan Serbia memburu dan membantai 6.000 dari mereka di hutan. Menjelang peringatan peristiwa memilukan pada 11 Juli 2020 lalu, Presiden Serbia Aleksandar Vucic menggambarkan petaka Srebrenica sebagai sesuatu yang seharusnya tidak bisa “dibanggakan", tetapi dia tidak pernah secara terbuka mengucapkan kata genosida. Senada dengan itu sehari sebelumnya, walikota Serbia, Mladen Grujicic yang terpilih pada 2016, setelah kampanye berdasarkan penolakan genosida mengatakan bahwa ada bukti baru setiap hari yang menyangkal kejadian tersebut. Pemimpin politik Serbia, Milorad Dodik juga menggambarkan pembantaian itu sebagai "mitos". Namun, anggota Muslim dari kepresidenan Bosnia, Sefik Dzaferovic menanggapi hal itu dengan menyatakan akan berperang melawan mereka yang menyangkal genosida dan memuliakan para pelakunya.Keesokan harinya, pernyataannya itu didukung oleh mufti besar Bosnia Husein Kavazovic (cnnindonesia.com 12/07/2020). Efek dari pembantaian massal itu masih bergema sampai hariini. Kuburan massal baru dan tubuh korban masih ditemukan 25 tahun setelah genosida. Mengapa Genosida terjadi? Mengurai sebab terjadinya petaka genosida srebrenica tidak terlepas dari sistem keamanan dunia yang saat ini berada dalam belenggu peradaban kufur yaitu sistem kapitalis sekuler. PBB sebagai organisasi dunia yang salah satu tugas utamanya menjaga perdamaian dan keamanan dunia telah berlaku tidak adil terhadap negara berpenduduk muslim. PBB justru menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim. Tragedi ini menjadi salah satu buktinya. PBB yang didirikan pada tahun 1945 sebagai organisasi payung internasional dengan beberapa tujuan, terutama untuk mencegah peperangan dan menjaga perdamaian di daerah-daerah sengketa. Namun, PBB telah berkali-kali gagal di seluruh dunia terutama karena adanya hak veto yang dipegang oleh lima negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Rusia, China, dan Perancis. Kegagalan PBB telah di kenal luas dari waktu ke waktu di dunia Muslim, karena PBB memang dirancang untuk memberikan status yang lebih tinggi kepada para anggota tetap Dewan Keamanan. Jika PBB tidak melayani kepentingan mereka, negara-negara ini akan bertindak tanpa sepengetahuan organisasi ini. Mengapa demikian? Sebab Punggawa sistem keamanan kapitalis ini lahir dari akal manusia yang tak akan bisa mencegah dan menjerakan manusia untuk berbuat aniaya terhadap orang lain, apakah bentuknya melukai, menyerang secara fisik, sampai membunuh jiwa. Maka menjadi pelajaran penting bagi umat ini bahwa kaum muslim akan terus menjadi objek pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa. Ibarat kapal, kaun muslim ini tanpa nahkoda. Jika demikian, kemana kaum muslim akan berlindung dari kejahatan kemanusiaan itu? Menjaga Keamanan dalam Sistem Islam Kondisi ini akan berbeda jika keamanan dunia berada ditangan kaum muslim, tentunya dalam bingkai sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Dalam sistem pemerintahan Islam, umat Islam bisa bersatu dan menjadi kuat, sehingga perlindungan terhadap harkat dan martabat umat Islam diberbagai wilayah termasuk muslim srebrenica dapat diwujudkan secara nyata. Dalam struktur pemerintahan Islam terdapat direktorat yang tugasnya adalah menjaga stabilitas keamanan dalam negeri. Lembaga inilah yang nantinya akan bertindak ketika ada ancaman dalam negeri seperti murtad, bughat, birabah, tajasus, penyerangan harta masyarakat, serta pelanggaran terhadap jiwa dan kehormatan. Ini semua karena sistem pemerintahan Islam hanya menjadikan Islam sebagai landasan bernegara. Islam sebagai agama luar biasa dalam hal toleransinya terhadap pemeluk agama lain. Umat lain bisa hidup tenang di bawah naungan Islam. Ini terjadi sejak masa Nabi saw, saat itu di Madinah hidup beberapa komunitas berbeda yakni Islam, Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik. Kondisi itu terus berlangsung hingga masa Khilafah di sepanjang masa keberadaannya. Ketika Islam berkuasa di Spanyol, Islam bisa mengayomi Nasrani dan Yahudi sehingga saat itu Andalusia dikenal dengan sebutan negara dengan tiga agama. Wujud kerahmatan Islam bisa tampak manakala Islam diterapkan secara sempurna (kâffah) dalam Negara Khilafah. Umat, baik secara individu dan berjamaah, akan terlindungi oleh Islam. Karena Islam menjaga agama (hifzh ad-dîn), menjaga akal (hifdhal-‘aql), menjaga harta (hifzh al-maâl) dan menjaga jiwa (hifzh al-nafs). Dalam penjagaan terhadap jiwa, Khilafah mencegah tindakan penganiayaan sesama manusia. Ini adalah implementasi dari firman Allah SWT dalam Qur’an surat al-Maidah ayat 32 yang berbunyi: “Sesungguhnya siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”. Jika ada orang yang melanggar ketentuan ini, Islam akan menjatuhkan sanksi yang keras. Bisa dalam bentuk diyat (tebusan darah) atau qishâsh (dibunuh). Sesuai dengan firman Allah SWT: “Di dalam qishâsh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa ” (QS al-Baqarah:179). Dengan begitu, darah dan jiwa manusia pun terjaga. Inilah kerahmatan Islam dalam menjaga setiap jiwa kaum Muslim. Wallahu ‘alam bisshawab

Sistem Islam Memberantas Zina dan Mewujudkan Ketaatan Warga

https://web.facebook.com/page/1545580528990178/search/?q=zulia%20ulfa&locale=id_ID%3Cdiv#:~:text=Sistem%20Islam%20Memberantas%20Zina%20d...